TEORI DAN PRAKTEK FATLIQUOR
JENIS MINYAK
Fatliqour agents memiliki bahan mentah yang berasal dari bahan alami dan bahan tambang. Fatliquor yang bahan dasarnya dari alam, dibuat darii triglysserida unsaturated dengan asam lemak bebas tak jenuh satu sampai tiga ikatan rangkap, atau asam lemak jenuh. Sumber utama dari trigliserida adalah minyak ikan , minyak neatsfoot, minyak hewani, dan lilin / malam. (lemak alkohol+ester asam lemak ). Lanolin, alcohol berlemak dan tallow dll. Bisa juga dihidrolisa.
Fatliqour juga bisa diperoleh dari bahan mentah berikut ini :
SUBTANSI MINYAK BIOLOGIS
- Minyak nabati : linseed oil, minyak kacang tanah, minyak kayu yang juga termasuk dalam golongan dry oil.
Rape oil, minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak kacang kedelai, minyk biji kapas, dan rice bran oil yang juga termasuk sebagai golongan semi-drying oils.
Sedangkan olive oil, minyak jarak dan grandnut oil termasuk dalam golongan minyak non-drying oil.
- Lemak tumbuhan : lemak kelapa, minyak biji sawit dan lemak minyak sawit
- Minyak hewan: marine animal oil, seal oil, whale oil, dolphin oil, fish oil, sardine oil, menhaden oil, cod liver oil, lard oil dan neatsfoot oil.
- Lemak hewan : beef and mutton tallow, lard, butterfat, bonefat and horse grease
- Lilin / malam:carnauba wax, bee’s wax and wool grease .
(catatan :bahwa penggunaan beberapa bahan dari laut biasanya dibatasi oleh perlindungan hewan-hewan langka )
NON BIOLOGIS / MINYAK SINTETIS
Paraffin wax, minyak mineral, olefins, proses hydrocarbon, minyak asam ester sintetis dan lilin, minyak alcohol,alkali benzene.
PENGGOLONGAN MINYAK
Dalam fatliquor kulit tersamak, biasanya jenis minyak yang digunakan diklafikasikan sebagai berikut :
- Minyak untreated, lemak, wax
- Minyak teremolsi, dan lemak
- Minyak sulfonad, gemuk, minyak alcohol
-
- Hasil sulfat (ikatan – C – O – S, seperti-ester)
- hasil sulfonad ( ikatan – C – S, semua asam sulfat)
- Minyak klorinat dan gemuk
-
- Hasil klorinate
- Hasil sulfo klorinate
- Hasil minyak oksidasi, dan gemuk
HASIL REAKSI FATLIQUOR
(i.e) minyak subtansi + asam sulfur R – O – SO3H
(i.e) minyak subtansi + O2 + NaHSO3 R – SO3Na
(i.e) minyak subtansi + SO2 + Cl2 +H2 R – CH SO3H
↓
Cl
- Esterifikasi dan hydroxiathelasi
Minyak Sulfat dibuat berdasarkan reaksi antara minyak dengan asam sulfat dalam jumlah tertentu dengan suhu yang dikontrol, setelah itu lalu dicuci dan kemudian dinetralisasi. Sulfonasi berlangsung ketika asam sulfat ditambahkan lalu menyerang ikatan rangkap pada etilena.
Minyak Sulfonat dibuat dengan bahan pokok minyak yang direaksikan dengan asam sulfat yang konsentrasinya tinggi pada yang suhu yang lebih tinggi secara relatif, bersama dengan agen sulfonating kuat seperti asam klorosulfat.
Minyak sulfit diproduksi dari oxidative sulfitation dalam minyak-passing palung udara yaitu suatu campuran minyak dan larutan bi-sulfite di temperatur yang diperlukan. Proses ini tidak melibatkan netralisasi atau pencucian seperti pada proses sulfatasi. Emulsi air pada minyak sulfit dan sulfonat menunjukkan stabilitas asamnya lebih baik dibandingkan dengan minyak sulfat.
Dalam minyak sulfit biasanya terdapat kelompok asam sulfonic yang membentuk rantai C-S yang tidak bisa diputuskan. Dalam produksi minyak sulfit , biasanya menghasilkan hasil samping berupa alfa oxysulfonates. Yang mana sebagian besar dari proses sulfatasi –SO3. Sulfonation dapat dilaksanakan sampai emulsifiabilas air cukup dan stabilitas emulsi dicapai. Emulsi menjadi lebih bersifat tahan terhadap kekerasan air, kestabilan asam, bahan penyamak dari mineral dan lain – lain
Minyak sulfit dan minyak hasil sulfonasi – SO3 memiliki daya mengemulsi yang lebih tahan akan kestabilan asam dibanding minyak sulfat. Dengan terus meningkatkan emulsifier, efek fatliquoring dari minyak sulfonat akan menjadi lebih kering, dan cocok untuk fatliquoring kulit suede, nubuck dll. Extraktabilitas pelarut biasanya berkurang ketika emulsifier ditingkatkan.
Minyak Sulfit menghasilkan suatu efek fatliquoring lebih lembut dibanding minyak sulfat atau minyak sulfonasi -SO3. Efek kelembutan dinaikkan dengan penggunaan neatsfoot oil, minyak lemak babi, minyak ikan atau sperm oil. Di dalam urutan sulfition, sulfation dan -SO3 sulfonation, sifat drier kulit akan semakin besar ( kuat ).
Jenis emulsi dan perlakuan teknis dari fatliquor tergantung pada tingkat derajat sulfonasi, jenis bahan baku, pemilihan bahan kimia untuk memproses dan teknik pembuatannya. Ini memungkinkan pengembangan suatu variasi yang luas dalam fatliquoring agen dengan properties yang sangat spesifik. Derajat tingkat sulfonasi dari bahan baku alami biasanya tiidak melebihi 40% seperti pengurangan properties berkurang pada jumlah yang lebih tinggi. Bagaimanapun, derajat sulfonasi sekitar 60% tidak lebih baik dari fatliquor synthetic. Dalam hal ini panjang rantai dari bahan baku dapat mempengaruhi properties yang teknis: paraffin dengan rantai panjang menghasilkan sifat kelembutan yang lebih baik dan efek pengisi, sedangkan rantai yang lebih pendek memiliki sifat lebih baik sebagai wetting agent.
Read more